The city’s atmosphere

The city light too dark,

to be seen.

as black as midnight ocean.

The city sky too quiet,

to be heard.

as silent as the corpse

Staring at the ceiling,

feel the midnight wind.

Touch your face slowly,

through your hair.

Staring at the windows,

feels the fog of the midnight air,till it blind you

Feels the midnight dew,till it stifle you.

fall into you feels like fall into the dark deep midnight thoughts.

intoxicate.

Iklan

Senar manis

Umpama air mencumbu api dikala resah.

Meredam segala amarah di rongga gelisah.

Mengoyak timbunan-timbunan keluh kesah,

yang merambat di benak ini.

Desiran lantunan mu membungkam benang kusut di benak,

menarikku untuk menyelam lebih dalam.

Membawa ku terbang tanpa sayap.

Kau sentuh beban yang ku sembunyikan.

Kau hapus redam rasa itu,

kau tuang kedalam alunanmu,

kedalam petikan indahmu.

Memikul kegusaranku,

dikala gelisah.

Menampung hujanku,

dikala mendung tiba.

Membungkam apiku,

dikala memuncak.

Ah,sudahlah.

Aku jatuh cinta pada sendu senja kali ini,

aku pun jatuh cinta pada keheningan malam ini,

aku juga jatuh cinta dikala angin musim panas mendekap lukisku.

Sekedar enam senar yang kau punya bersama antek-anteknya meluluhkan ragaku.

Sekedar petikan-petikan manis ataupun pahit kau selami jiwaku.

You (III)

Visible,

you are.

You are visible,

to touch.

You are noticeable,

to see.

You are detectable,

to the sun kiss you under the adelaide sky.

You are discernible,

to the rain drop feel you.

But,

you are invisible.

You are invisible,

to be feel.

Like the wind escort the shadows to globe-trot,

unseen.

Kindred with the rain bring the gloomy oxygen to the ground.

You are invisble,

to be love.

The anthology of words,

you are.

Rasaku

Rasaku padamu, 

kugoreskan di secarik kertas kecil,yang takkan pernah kau tatap.

Yang takkan pernah kau terima,

dan takkan pernah kau baca.

Rasaku padamu,

hanya menjadi sayatan-sayatan manis di jiwa,

yang takkan pernah terlihat oleh siapapun.

Rasaku padamu,

tersirat di secarik kertas kecil,yang takkan pernah kuberikan padamu sampai kapanpun.

Kuharap rasaku padamu,

Yang kugoreskan di secarik kertas kecil,

takkan pernah luntur walau hujan membasahinya.

Cerita temanku

dugaan mataku tentangmu,benar.

benar,kau hanya singgah berteduh.

benar,kau hanya bertamu untuk sementara.

semenjak kau singgah,aku selalu membuka pintu pondokku.

walau angin memaksa menutupnya,ku tetap membukanya.

dengar baik-baik dan simak baik baik;ini suaraku :

aku tak merasa perih ketika kau tak lagi menyinggahi pondokku yang terbuka

aku tak merasa mendung menyelimuti pondokku ketika kau tak lagi bertemu mata dengan mataku

aku tak menyalakan api didepanmu ketika kau kulihat mendatangi pondok lain.

kuharap kau bahagia.

aku hanya merasa asap-asap ibu kota yang hitam mengisi rongga paru ku yang kosong.

sesak.

tapi,percayalah aku baik-baik saja.

selamat tinggal,kini sudah waktunya kututup pintu pondokku yang telah usang dimatamu.

Mata Berbicara

memandang dalam kesunyian,hanyut dalam pandangan membuatku candu

seakan-akan kau lah obat yang kutunggu-tunggu.

memandang dari kejauhan sudut ibukota,menghirup rangkaian deruan knalpot membuatku tertidur dalam pikiran,

seakan-akan kau lah yang mengontrol pikiranku.

aku memandang,tidak bersuara,hanya memandang.

aku menyapamu dalam keheningan yang tak kalah membuyarkan kupu-kupu di dadaku.

aku mengenalmu hanya dalam kesunyian malam.

biarkan aku memandang mu lebih dalam

agar ku tahu kau lah pusaran candu yang kutunggu.

Ketikan Manis

panas menyentuh jemari-jemari tanganku

geli rasanya jika kugerak kan.

tergerak jemari-jemari tanganku

mendorong menggerakkan sesuatu.

manis gulali melewati tenggorokkanku yang kering,

entah apa ini.

panas mencium kedua sisi pipiku

panas,terasa bakaran getaran yang tak ada habisnya.

terik sang surya menarik kedua sisi bibir ku.

menampakkan sumringah senyum.

menggambarkanmu dalam kumpulan kata

tiada habisnya.

Ketikan-ketikan ini

memporak-porandakan jiwaku!